Gema Sejarah di Lapangan Indoor SMAN 1 Turi: Mengukuhkan Jati Diri Generasi Berbudaya

Turi – Nuansa etnik Jawa nan megah menyelimuti Lapangan Indoor SMA Negeri 1 Turi pada Jumat (13/3). Seluruh warga sekolah, mulai dari murid, guru, hingga tenaga kependidikan, larut dalam perhelatan “Sinau Sejarah Keistimewaan DIY” bertajuk Hadeging Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat. Acara kolaborasi dengan Paniradya Kaistimewaan DIY ini menjadi momentum penting bagi SMAN 1 Turi untuk mempertegas jati dirinya sebagai sekolah yang mengedepankan karakter berbudaya.
Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan wawasan sejarah, tetapi juga menghidupkan kembali pemikiran pendiri bangsa melalui tema besar “Renaissance Yogyakarta: Kembali ke Pemikiran Mangkubumi.” Melalui kehadiran narasumber kompeten seperti Dr. Baha Uddin (UGM) dan KRT Purwowinoto (Kraton Yogyakarta), para peserta diajak menelusuri akar filosofi berdirinya Kasultanan Yogyakarta pada 13 Maret 1755 yang menjadi pondasi keistimewaan DIY hingga saat ini.
Acara dibuka dengan sangat memukau melalui Prolog berbahasa Jawa halus yang membangkitkan memori kolektif tentang perjuangan Pangeran Mangkubumi. Narasi puitis tersebut mengisahkan kembali detik-detik berdirinya nagari yang dibangun di atas landasan filosofis yang kokoh. Dalam dialog tersebut, dipaparkan secara mendalam 4 Pilar Utama Hadeging Ngayogyakarta sebagai pondasi keistimewaan.
Dalam paparan yang disampaikan, ditekankan bahwa bagi generasi muda, memahami sejarah berdirinya Yogyakarta berarti memahami nilai yang harus dijaga untuk masa depan. Tantangan zaman mungkin berubah, tetapi prinsip keseimbangan, kebijaksanaan, dan keberpihakan pada kehidupan bersama tetap menjadi fondasi penting dalam membangun masyarakat yang berkelanjutan.
Gagasan tentang Renaissance Yogyakarta sesungguhnya mengandung pesan sederhana namun mendalam: Yogyakarta berdiri bukan semata karena kekuatan politik, melainkan karena kekuatan gagasan yang menuntun arah perjalanan kotanya sejak awal. Selama nilai-nilai kebijaksanaan, keseimbangan, dan pengabdian kepada masyarakat tetap hidup, semangat yang dahulu melahirkan Yogyakarta akan terus menjadi sumber kekuatan bagi terjaganya keistimewaan daerah ini.
Dinamisme ekosistem pendidikan di SMAN 1 Turi terlihat nyata saat kemeriahan diawali dengan penampilan seni tari elok oleh para murid. Namun, sorotan utama tetap tertuju pada daya kritis siswa saat sesi dialog berlangsung. Berbagai pertanyaan tajam diajukan oleh para murid SMA Negeri I Turi ini, menunjukkan kepedulian mereka yang mendalam:
• Struktur & Tata Kelola: Mengenai mekanisme organisasi dan pemilihan pejabat di Kraton secara adat.
• Filosofi & Mitos: Keingintahuan tentang alur spiritual langsung dari Kraton menuju puncak Merapi.
• Eksistensi Generasi Muda: Langkah konkret yang bisa dilakukan murid untuk melestarikan budaya agar tetap relevan di masa depan.
Acara yang turut disiarkan secara langsung oleh Paniradya Kaistimewaan DIY ini juga menampilkan persembahan dari murid nan anggun membawakan tari “Golek Kusuma Asri”. Acara ditutup dengan syahdu melalui sajian musik keroncong yang membawakan lagu-lagu anak Jawa zaman dahulu. Alunan nada tersebut seolah melengkapi perjalanan batin para hadirin untuk kembali ke akar jati diri. Dengan berakhirnya kegiatan ini, SMA Negeri 1 Turi membuktikan diri sebagai institusi yang terbuka dan konsisten dalam merawat nilai-nilai luhur Yogyakarta demi mencetak generasi yang berkarakter di masa depan.


